Kisah Nabi Nuh
Berlalulah beberapa tahun dari
kematian Nabi Adam. Banyak hal berubah di muka bumi. Dan bertepatan dengan
fitrah manusia itu sendiri, terjadilah kealpaan terhadap wasiat Nabi Adam.
Kesalahan yang dahulu kembali berulang. Seperti mana tika Nabi Adam dan Hawa
melupakan ketetapan tuhan untuk menjauhi pohon didalam syurga, seperti itulah
manusia melupakan ajaran ilahi yang dilangsungkan dimuka bumi selepas turun
dari syurga.
Sebelum lahirnya kaum Nabi Nuh, telah hidup lima orang saleh dari datuk-datuk kaum Nabi Nuh. Mereka hidup selama beberapa zaman kemudian mereka mati. Nama-nama mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.
"Dan mereka berkata:
"Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan
jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula
suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr". ~ Surah Nuh ayat 23"
Setelah kematian mereka, orang-orang
membuat patung-patung dari mereka, dalam rangka menghormati mereka dan sebagai
peringatan terhadap mereka. Kemudian berlalulah waktu, lalu orang-orang yang
memahat patung itu mati. Lalu datanglah anak-anak mereka, kemudian anak-anak
itu mati, dan datanglah cucu- cucu mereka. Kemudian timbullah berbagai dongeng
dan khurafat yang membelenggu akal manusia di mana disebutkan bahawa
patung-patung itu memiliki kekuatan khusus.
Dalam situasi seperti ini, Allah SWT
mengutus Nuh a.s untuk membawa ajaran ilahi kepada kaumnya. Nabi Nuh adalah
seorang hamba yang akalnya tidak terpengaruh oleh keadaan sekeliling, yang
menyembah selain Allah SWT. Allah SWT memilih hamba-Nya Nuh dan mengutusnya di
tengah-tengah kaumnya.
Dakwah Nabi Nuh kepada kaumnya
"Dan sesungguhnya Kami telah
mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh
kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka
mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?" ~ Surah Al-Mu'minun ayat
23"
Nabi Nuh a.s menjelaskan kepada
kaumnya bahawa mustahil terdapat selain Allah Yang Maha Esa sebagai Pencipta.
Ia memberikan pengertian kepada mereka, bahawa dunia telah lama menipu mereka
dan telah tiba waktunya untuk menghentikan tipuan ini. Nuh menyampaikan kepada
mereka, bahawa Allah SWT telah memuliakan manusia: Dia telah menciptakan
mereka, memberi mereka rezeki, dan menganugerahi akal dan tubuh yang sihat
kepada mereka. Manusia mendengarkan dakwahnya dengan penuh minat. Dakwah Nabi
Nuh cukup menggoncangkan jiwa mereka.
Nabi Nuh menarik perhatian kaumnya
agar melihat alam semesta yang diciptakan oleh Allah berupa langit dengan
matahari, bulan dan bintang-bintang yang menghiasinya, bumi dengan kekayaan
yang ada di atas dan di bawahnya, berupa tumbuh-tumbuhan dan air yang mengalir
yang memberi kenikmatan hidup kepada manusia, pengantian malam menjadi siang
dan sebaliknya yang kesemua itu menjadi bukti dan tanda nyata akan adanya
keesaan Tuhan yang harus disembah dan bukan berhala-berhala yang mereka buat
dengan tangan mereka sendiri.Di samping itu Nabi Nuh juga memberitakan kepada
mereka bahwa akan ada ganjaran yang akan diterima oleh manusia atas segala
amalannya di dunia iaitu syurga bagi amalan kebajikan dan neraka bagi segala
pelanggaran terhadap perintah agama yang berupa kemungkaran dan kemaksiatan.
Nabi Nuh yang dikurniakan Allah
dengan sifat-sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi, fasih dan tegas dalam
kata-katanya, bijaksana dan sabar dalam tindak-tanduknya melaksanakan tugas
risalahnya kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dengan cara
yang lemah lembut mengetuk hati nurani mereka dan kadang kala dengan kata-kata
yang tajam dan nada yang kasar bila menghadapi pembesar-pembesar kaumnya yang
keras kepala yang enggan menerima hujjah dan dalil-dalil yang dikemukakan
kepada mereka yang tidak dapat mereka membantahnya atau mematahkannya.
Akan tetapi walaupun Nabi Nuh telah
berusaha sekuat tenaganya berdakwah kepada kaumnya dengan segala kebijaksanaan,
kecekapan dan kesabaran dan dalam setiap kesempatan, siang mahupun malam dengan
cara berbisik-bisik atau cara terang dan terbuka ternyata hanya sedikit sekali
dari kaumnya yang dapat menerima dakwahnya dan mengikuti ajakannya, yang
menurut sementara riwayat tidak melebihi bilangan seratus orang. Mereka pun
terdiri dari orang-orang yang miskin berkedudukan sosial lemah. Sedangkan orang
yang kaya-raya, berkedudukan tinggi dan terpandang dalam masyarakat, yang
merupakan pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa tetap membangkang, tidak
mempercayai Nabi Nuh mengingkari dakwahnya dan sesekali tidak merelakan melepas
agamanya dan kepercayaan mereka terhadap berhala-berhala mereka, bahkan mereka
berusaha dengan mengadakan persekongkolan hendak melumpuhkan dan menggagalkan
usaha dakwah Nabi Nuh.
Berkata mereka kepada Nabi Nuh:
"Bukankah engkau hanya seorang
daripada kami dan tidak berbeda daripada kami sebagai manusia biasa. Jikalau betul
Allah akan mengutuskan seorang rasul yang membawa perintah-Nya, nescaya Ia akan
mengutuskan seorang malaikat yang patut kami dengarkan kata-katanya dan kami
ikuti ajakannya dan bukan manusia biasa seperti engkau hanya dapat diikuti
orang-orang rendah kedudukan sosialnya seperti para buruh petani orang-orang
yang tidak berpenghasilan yang bagi kami mereka seperti sampah
masyarakat.Pengikut-pengikutmu itu adalah orang-orang yang tidak mempunyai daya
fikiran dan ketajaman otak, mereka mengikutimu secara buta tuli tanpa
memikirkan dan menimbangkan masak-masak benar atau tidaknya dakwah dan ajakanmu
itu. Cuba agama yang engkau bawa dan ajaran -ajaran yang engkau sadurkan kepada
kami itu betul-betul benar, nescaya kamilah dulu mengikutimu dan bukannya orang-orang
yang mengemis pengikut-pengikutmu itu. kami sebagai pemuka-pemuka masyarakat
yang pandai berfikir, memiliki kecerdasan otak dan pandangan yang luas dan yang
dipandang masyarakat sebagai pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudah kami menerima
ajakanmu dan dakwahmu.Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang
soa-soal kemasyarakatan dan pergaulan hidup.kami jauh lebih pandai dan lebih
mengetahui daripada mu tentang hal itu semua.nya.Anggapan kami terhadapmu,
tidak lain dan tidak bukan, bahawa engkau adalah pendusta belaka."
Nuh berkata, menjawab ejekan dan
olok-olokan kaumnya:
"Adakah engkau mengira bahwa
aku dapat memaksa kamu mengikuti ajaranku atau mengira bahwa aku mempunyai
kekuasaan untuk menjadikan kamu orang-orang yang beriman jika kamu tetap
menolak ajakan ku dan tetap membuta-tuli terhadap bukti-bukti kebenaran
dakwahku dan tetap mempertahankan pendirianmu yang tersesat yang diilhamkan
oleh kesombongan dan kecongkakan karena kedudukan dan harta-benda yang kamu
miliki.Aku hanya seorang manusia yang mendapat amanah dan diberi tugas oleh
Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kamu. Jika kamu tetap berkeras
kepala dan tidak mahu kembali ke jalan yang benar dan menerima agama Allah yang
diutuskan-Nya kepada ku maka terserahlah kepada Allah untuk menentukan
hukuman-Nya dan ganjaran-Nya keatas diri kamu. Aku hanya pesuruh dan rasul-Nya
yang diperintahkan untuk menyampaikan amanah-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah
yang berkuasa memberi hidayah kepadamu dan mengampuni dosamu atau menurunkan
azab dan seksaan-Nya di atas kamu sekalian jika Ia kehendaki.Dialah pula yang
berkuasa menurunkan seksa dan azab-nya di dunia atau menangguhkannya sampai
hari kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa ,Maha
Mengetahui, maha pengasih dan Maha Penyayang.".
Kaum Nuh mengemukakan syarat dengan
berkata:
"Wahai Nuh! Jika engkau
menghendaki kami mengikutimu dan memberi sokongan dan semangat kepada kamu dan
kepada agama yang engkau bawa, maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri
dari orang-orang petani, buruh dan hamba-hamba sahaya itu. Usirlah mereka dari
pengaulanmu karena kami tidak dapat bergaul dengan mereka duduk berdampingan
dengan mereka mengikut cara hidup mereka dan bergabung dengan mereka dalam
suatu agama dan kepercayaan. Dan bagaimana kami dapat menerima satu agama yang
menyamaratakan para bangsawan dengan orang awam, penguasa dan pembesar dengan
buruh-buruhnya dan orang kaya yang berkedudukan dengan orang yang miskin dan
papa."
Nabi Nuh menolak pensyaratan kaumnya
dan berkata:
"Risalah dan agama yang aku
bawa adalah untuk semua orang tiada pengecualian, yang pandai mahupun yang
bodoh, yang kaya mahupun miskin, majikan ataupun buruh ,diantara penguasa dan
rakyat biasa semuanya mempunyai kedudukan dan tempat yang sama terhadap agama
dan hukum Allah. Andai kata aku memenuhi pensyaratan kamu dan meluluskan
keinginanmu menyingkirkan para pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang
dapat ku harapkan akan meneruskan dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana aku
sampai hati menjauhkan daripadaku orang-orang yang telah beriman dan menerima
dakwahku dengan penuh keyakinan dan keikhlasan di kala kamu menolaknya serta
mengingkarinya, orang-orang yang telah membantuku dalam tugasku di kala kamu
menghalangi usahaku dan merintangi dakwahku. Dan bagaimanakah aku dapat
mempertanggungjawabkan tindakan pengusiranku kepada mereka terhadap Allah bila
mereka mengadu bahawa aku telah membalas kesetiaan dan ketaatan mereka dengan
sebaliknya semata-mata untuk memenuhi permintaanmu dan tunduk kepada
pensyaratanmu yang tidak wajar dan tidak dpt diterima oleh akal dan fikiran
yang sihat. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang bodoh dan tidak
berfikiran sihat.
Pada akhirnya, karena merasa tidak
berdaya lagi mengingkari kebenaran kata-kata Nabi Nuh dan merasa kehabisan
alasan dan hujjah untuk melanjutkan dialog dengan beliau, maka berkatalah
mereka: "Wahai Nabi Nuh! Kita telah banyak bermujadalah dan berdebat dan
cukup berdialog serta mendengar dakwahmu yang sudah menjemukan itu. Kami tetap
tidak akan mengikutimu dan tidak akan sesekali melepaskan kepercayaan dan
adat-istiadat kami sehingga tidak ada gunanya lagi engkau mengulang-ulangi
dakwah dan ajakanmu dan bertegang lidah dengan kami. Datangkanlah apa yang
engkau benar-benar orang yang menepati janji dan kata-katanya. Kami ingin
melihat kebenaran kata-katamu dan ancamanmu dalam kenyataan. Karena kami masih
tetap belum mempercayaimu dan tetap meragukan dakwahmu."
Nabi Nuh berputus asa dari kaumnya
Nabi Nuh berada di tengah-tengah
kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah menyampaikan risalah
Tuhan, mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah
dan beribadah kepada Allah Yang maha Kuasa memimpin mereka keluar dari jalan
yang sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang, mengajar mereka
hukum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, mengangkat
darjat manusia yang tertindas dan lemah ke tingkat yang sesuai dengan fitrah
dan qudratnya dan berusaha menghilangkan sifat-sifat sombong dan bongkak yang
melekat pada para pembesar kaumnya dan medidik agar mereka berkasih sayang,
tolong-menolong diantara sesama manusia. Akan tetapi dalam waktu yang cukup
lama itu, Nabi Nuh tidak berhasil menyedarkan dan menarik kaumnya untuk
mengikuti dan menerima dakwahnya beriman, bertauhid dan beribadat kepada Allah
kecuali sekelompok kecil kaumnya yang tidak mencapai seramai seratus orang,
walaupun ia telah melakukan tugasnya dengan segala daya-usahanya dan sekuat tenaganya
dengan penuh kesabaran dan kesulitan menghadapi penghinaan, ejekan dan cercaan
makian kaumnya, karena ia mengharapkan akan datang masanya di mana kaumnya akan
sedar diri dan datang mengakui kebenarannya dan kebenaran dakwahnya. Harapan
Nabi Nuh akan kesedaran kaumnya ternyata makin hari makin berkurangan dan
bahawa sinar iman dan takwa tidak akan menebus ke dalam hati mereka yang telah
tertutup rapat oleh ajaran dan bisikan Iblis. Hal mana Nabi Nuh berupa
berfirman Allah yang bermaksud:
"Sesungguhnya tidak akan
seorang daripada kaumnya mengikutimu dan beriman kecuali mereka yang telah
mengikutimu dan beriman lebih dahulu, maka janganlah engkau bersedih hati
karena apa yang mereka perbuatkan." Dengan
penegasan firman Allah itu, lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan
habislah kesabarannya. Ia memohon kepada Allah agar menurunkan Azab-Nya di atas
kaumnya yang berkepala batu seraya berseru:"Ya Allah! Janganlah Engkau
biarkan seorang pun daripada orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi
ini. Mareka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan
mereka tinggal dan mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak
yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir spt mereka."
Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh Allah
dan permohonannya diluluskan dan tidak perlu lagi menghiraukan dan
mempersoalkan kaumnya, karena mereka itu akan menerima hukuman Allah dengan
mati tenggelam.
Nabi Nuh membuat kapal
Setelah menerima perintah Allah
untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya
dan mulai mereka mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk maksud tersebut,
kemudian dengan mengambil tempat di luar dan agak jauh dari kota dan
keramaiannya mereka dengan rajin dan tekun bekerja siang dan malam menyelesaikan
pembinaan kapal yang diperintahkan itu. Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota
dan masyarakatnya, agar dapat bekerja dengan tenang tanpa gangguan bagi
menyelesaikan pembinaan kapalnya namun ia tidak luput dari ejekan dan cemuhan
kaumnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat kerja membina kapal itu.
Mereka mengejek dan mengolok-olok dengan mengatakan: "Wahai Nuh! Sejak
bila engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat kapal?Bukankah engkau seorang
nabi dan rasul menurut pengakuanmu, kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu
dan pembuat kapal.Dan kapal yang engkau buat itu di tempat yang jauh dari air
ini adalah maksudmu untuk ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang
akan menarik kapalmu ke laut?"Dan lain-lain kata ejekan yang diterima oleh
Nabi Nuh dengan sikap dingin dan tersenyum seraya menjawab:"Baiklah tunggu
saja saatnya nanti, jika kamu sekarang mengejek dan mengolok-olok kami maka
akan tibalah masanya kelak bagi kami untuk mengejek kamu dan akan kamu ketahui
kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini.Tunggulah saatnya azab dan hukuman
Allah menimpa atas diri kamu."
Setelah selesai pekerjaan pembuatan
kapal yang merupakan alat pengangkutan laut pertama di dunia, Nabi Nuh menerima
wahyu dari Allah:"Siap-siaplah engkau dengan kapalmu, bila tiba
perintah-Ku dan terlihat tanda-tanda daripada-Ku maka segeralah angkut
bersamamu di dalam kapalmu dan kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap
jenis makhluk yang ada di atas bumi dan belayarlah dengan izin-Ku."
Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari bumi air yang deras dan
dahsyat yang dalam sekelip mata telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota
dan desa menggenangi daratan yang rendah mahupun yang tinggi sampai mencapai
puncak bukit-bukit sehingga tiada tempat berlindung dari air bah yang dahsyat
itu kecuali kapal Nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan
pasangan makhluk yang diselamatkan oleh Nabi Nuh atas dasar perintah Allah.
Dengan iringan "Bismillahi
majraha wa mursaha" belayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya menyusuri
lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas
dan ribut. Di kanan kiri kapal terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan
gelombang air yang menggunung berusaha menyelamat diri dari cengkaman maut yang
sudah sedia menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu. Tatkala
Nabi Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat
orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air,
tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama
"Kan'aan" timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak
menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang menerima hukuman Allah
itu. Pada saat itu, tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan kasih sayang
seorang ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam keadaan cemas
menghadapi maut ditelan gelombang.
Nabi Nuh secara spontan, terdorong
oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil
puteranya:Wahai anakku! Datanglah kemari dan gabungkan dirimu bersama
keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat
dan terhindar dari bahaya maut yang engkau menjalani hukuman Allah."
Kan'aan, putera Nabi Nuh, yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan
dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras
ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang
menentang:"Biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi
berlindung di atas geladak kapalmu aku akan dapat menyelamatkan diriku sendiri
dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bah
ini."
Nuh menjawab:"Percayalah bahawa
tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami
di atas kapal ini. Masa tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman
Allah yang telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperolehi rahmat dan
keampunan-Nya." Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah
Kan'aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata
ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air mengikut kawan-kawannya dan
pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.
Nabi Nuh bersedih hati dan
berdukacita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir tidak beriman dan belum
mengenal Allah. Beliau berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah:"Ya
Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bahagian
dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji benar dan Engkaulah Maha
Hakim yang Maha Berkuasa."Kepadanya Allah berfirman:"Wahai Nuh!
Sesungguhnya dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah
menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan mengikuti
jejak orang-orang yang kafir daripada kaummu.Coretlah namanya dari daftar
keluargamu.Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu mengikuti jalan mu dan
beriman kepada-Ku dapat engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan
keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungannya dan terjamin keselamatan
jiwanya.Adapun orang-orang yang mengingkari risalah mu, mendustakan dakwahmu
dan telah mengikuti hawa nafsunya dan tuntutan Iblis, pastilah mereka akan
binasa menjalani hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak
gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau
belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan
orang-orang yang bodoh."
Nabi Nuh sedar segera setelah
menerima teguran dari Allah bahwa cinta kasih sayangnya kepada anaknya telah
menjadikan ia lupa akan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir
termasuk puteranya sendiri. Ia sedar bahawa ia tersesat pada saat ia memanggil
puteranya untuk menyelamatkannya dari bencana banjir yang didorong oleh
perasaan naluri darah yang menghubungkannya dengan puteranya padahal sepatutnya
cinta dan taat kepada Allah harus mendahului cinta kepada keluarga dan
harta-benda. Ia sangat sesalkan kelalaian dan kealpaannya itu dan menghadap
kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya dengan berseru:"Ya Tuhanku aku
berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian
dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Ya
Tuhanku bila Engkau tidak memberi ampun dan maghfirah serta menurunkan rahmat
bagiku, nescaya aku menjadi orang yang rugi."
Setelah air bah itu mencapai puncak
keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan
kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian
bertambatlah kapal Nuh di atas bukit " Judie " dengan iringan perintah
Allah kepada Nabi Nuh:"Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin
yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku
bagimu dan bagi umat yang menyertaimu."
Zaman Antediluvian
Perkataan Antedulivian adalah
satu perkataan yang diambil dari perkataan Latin (syn.Prediluvian) yang
bermaksud "Sebelum Banjir Besar" seperti yang terdapat dalam
Injil. Perkataan ini merujuk zaman manusia yang hidup sebelum kejadian banjir
besar pada ketika zaman Nabi Nuh.
Penulis seperti William Whiston
(A New Theory of the Earth
1696) dan Henry Morris
(The Genesis Flood
1961) menggambarkan zaman antediluvian adalah
seperti berikut:
- Umur
seseorang manusia adalah lebih panjang dari umur manusia hari ini iaitu
sekitar 700-950 tahun, seperti yang ditulis dalam Genealogies of Genesis.
- Jumlah
populasi manusia pada ketika itu adalah lebih ramai berbanding pada tahun
1696 . Perkiraan Whiston menggambarkan lebih kurang 500 juta manusia
berkemungkinan telah lahir dalam zaman antediluvian, berdasarkan jangka
hayat yang panjang dan fertility rates.
- Tidak
wujud awan dan hujan. Muka bumi hanya menerima air dari embun yang
terhasil dari proses pemewalpan dan sejatan siang dan malam. Lautan dan
sungai pula sememangnya telah semula jadi wujud dan menjadi sumber
kahidupan harian manusia.
Gambaran dari Injil (New Testament)
juga mengatakan wujudnya makhluk-makhluk pelik dan ajaib seperti gergasi,
manusia berkepak burung (Nephilim) dan beberapa jenis makhluk yang tidak
tergambar oleh fikiran manusia hari ini. Tetapi kesemunya telah musnah ditelan
gelombang dan arus dari banjir besar. Apa yang dapat kita lihat hari ini
hanyalah makhluk dan binatang yang telah naik ke kapal Nabi Nuh.
Kisah Nabi Nuh dalam Al-Quran
Al-Quran menceritakan kisah Nabi Nuh
dalam 43 ayat dari 28 surah di antaranya surah Nuh dari ayat 1 sehinga 28, juga
dalam surah "Hud" ayat 27 sehingga 48 yang mengisahkan dialog Nabi
Nuh dengan kaumnya dan perintah pembuatan kapal serta keadaan banjir yang
menimpa di atas mereka.
Pengajaran dari Kisah Nabi Nuh
Bahawasanya hubungan antara manusia
yang terjalin karena ikatan persamaan kepercayaan atau penamaan aqidah dan
pendirian adalah lebih erat dan lebih berkesan daripada hubungan yang terjalin
karena ikatan darah atau kelahiran. Kan'aan yang walaupun ia adalah anak
kandung Nabi Nuh, oleh Allah s.w.t. dikeluarkan dari bilangan keluarga ayahnya
karena ia menganut kepercayaan dan agama berlainan dengan apa yang dianut dan
didakwahkan oleh ayahnya sendiri, bahkan ia berada di pihak yang memusuhi dan
menentangnya.
Maka dalam pengertian inilah dapat
difahami firman Allah dalam Al-Quran yang bermaksud:"Sesungguhnya para
mukmin itu adalah bersaudara." Demikian pula hadis Rasulullah s.a.w.yang
bermaksud:"Tidaklah sempurna iman seseorang kecuali jika ia menyintai
saudaranya yang beriman sebagaimana ia menyintai dirinya sendiri."Juga
peribahasa yang berbunyi:"Adakalanya engkau memperolehi seorang saudara
yang tidak dilahirkan oleh ibumu."